Rejeki itu di Tangan Tuhan atau Manusia?

Rejeki itu sebenarnya di tangan siapa? Di tangan manusia atau di tangan Tuhan?

Mari kita simak ilustrasi berikut ini. Ada seseorang yang membuat sebuah mangkok yang dinamakan Mangkok A. Mangkok A yang dibuatnya ini memiliki kapasitas penampungan air sebanyak 100 ml.

Lalu, ada orang lainnya yang membuat mangkok yang lebih besar yang dinamakan Mangkok B. Mangkok B ini memiliki kapastitas yang jauh lebih besar, yaitu 1000 ml air.

Pertanyaan saya, jika turun hujan di wilayah Mangkok A sebanyak 100 ml dan juga turun hujan di wilayah Mangkok B sebanyak 100 ml, berapakah ml air hujan yang berhasil didapatkan oleh masing-masing mangkok.

Jelas Mangkok A mendapatkan 100 ml air hujan, begitu juga dengan Mangkok B mendapatkan 100 ml air hujan.

Lalu mengapa orang yang membuat Mangkok B hanya mendapatkan hasil yang sama dengan orang yang membuat Mangkok A padahal ia sudah capek-capek membuat mangkok yang jauh lebih besar?

Konteks ini menunjukkan bahwa besarnya air hujan yang didapatkan tidak bergantung pada besarnya mangkok.

Dengan demikian, kita mengerti bahwa rejeki itu di tangan Tuhan.

Baik, mari kita asumsikan konteks yang lain. Bagaimana jika turun hujan sebanyak 500 ml di wilayah Mangkok A dan turun hujan sebanyak 500 ml juga di wilayah Mangkok B, berapakah ml air hujan yang didapatkan oleh masing-masing mangkok?

Jelas, Mangkok A hanya mendapatkan 100 ml air hujan karena kapasitasnya hanya mentok di 100 ml. Sedangkan, Mangkok B berhasil mendapatkan 500 ml air hujan.

Artinya, kali ini kita menjumpai kenyataan bahwa usaha orang membuat Mangkok B berkapasitas 1000 ml tidak sia-sia.

Dengan demikian, kita dapat katakan rejeki itu di tangan manusia. Semakin besar usaha yang dia lakukan, semakin besar hasil yang didapatkan.

Baik, sekarang kita asumsikan hal yang lain. Bagaimana jika turun hujan sebanyak 100 ml di wilayah Mangkok A tetapi hanya turun hujan sebanyak 50 ml di wilayah Mangkok B? Mangkok A mendapatkan 100 ml dan Mangkok B hanya mendapatkan 50 ml.

Kali ini, Mangkok B malah mendapatkan hasil yang lebih sedikit daripada Mangkok A. Lagi-lagi, kita kembali diingatkan bahwa sebesar-besarnya usaha yang kita lakukan malah menjadi tidak berarti jika air hujan yang turun hanya sedikit.

Artinya, rejeki memang berada di tangan Pihak yang mampu menurunkan hujan, yaitu Tuhan. Lalu, bagaimana kita bisa menjawab pertanyaan ini? Rejeki sebenarnya di tangan siapa?

Menurut saya, kita tidak perlu mengejar rejeki karena tidak selamanya rejeki yang kita dapatkan itu sesuai dengan usaha yang sudah kita lakukan.

Sekali lagi, banyak sedikitnya rejeki itu diatur oleh Tuhan. 

Hal yang bisa kita lakukan adalah bagaimana mempersiapkan diri kita agar layak mendapatkan rejeki yang lebih banyak.

Orang yang membuat mangkok berkapasitas 1000 ml pasti lebih siap mendapatkan yang lebih banyak dibandingkan dengan orang yang membuat mangkok berkapasitas 100 ml. Namun, bukan berarti ia pasti mendapatkan lebih banyak.

Mengerti? Dalam konteks bisnis, ini sama saja dengan kita harus memberikan pelayanan dengan kualitas setinggi-tingginya kepada pasar kita. Tidak perlu kita memikirkan bagaimana respon pasar atau berapa profit yang kita dapatkan dari itu.

Inilah yang saya maksud dengan pekerjaan cinta. Jika kita mencintai pasar kita, kita akan memberikan lebih daripada yang diharapkan oleh pasar. Kita pun tidak perlu memikirkan apakah pasar akan menyambut cinta kita atau tidak. 

Lakukanlah semuanya dengan cinta dan rasakanlah rejeki akan terus mengalir kepada kita. Orang yang bekerja dengan cinta tidak akan pernah kekurangan.

Salam MANTAF!